Sabtu malam, 19 Juli 2025, gelaran Huma Betang Night kembali diadakan di Bundaran Besar, Palangka Raya menandai penyelenggaraan keenam acara ini. Diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, agenda rutin ini dikemas sebagai bagian dari program Car Free Night dengan tujuan menyeimbangkan hiburan malam, pelestarian budaya lokal, dan penguatan ekonomi mikro melalui UMKM.
1. Car Free Night dan Spirit Huma Betang
Acara ini digelar di jalan utama yang ditutup untuk kendaraan, menciptakan suasana bebas polusi dan ramah pejalan kaki. Ribuan masyarakat berkumpul menikmati hiburan budaya serta bazar beragam produk lokal. Gubernur Agustiar Sabran menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar hiburan, tetapi “gerakan mempertahankan identitas dan nilai-nilai luhur kearifan lokal di tengah modernitas” .
2. Ruang Ekspresi dan Ekonomi Kreatif UMKM
Wakil Gubernur Edy Pratowo dan Plt. Sekda Leonard S. Ampung menyampaikan bahwa acara ini menjadi panggung bagi pelaku seni tradisional dan UMKM. Mereka menekankan bahwa rumah-rumah makan, kerajinan, hingga cendera mata yang dijajakan menjadi alternatif hiburan yang murah sekaligus ruang kembang untuk ekonomi lokal.
3. Dampak Ekonomi yang Nyata
Data panitia mencatat bahwa setiap malam Huma Betang Night menghasilkan perputaran uang antara Rp 400–500 juta, menandakan aktivitas ekonomi yang signifikan di kalangan UMKM. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah acara budaya bisa menjadi stimulator ekonomi yang efektif .
4. Citra Kota dan Budaya yang Terjaga
Gubernur Agustiar menyoroti bahwa acara ini menjembatani “warisan budaya dengan dinamika kreativitas generasi muda.” Car Free Night seperti ini bukan hanya meningkatkan kualitas udara, tetapi juga menciptakan brand image Palangka Raya sebagai kota yang ramah lingkungan dan kaya budaya .
5. Kolektivitas, Kebersamaan, dan Kebersihan
Agar suasana tetap nyaman, Pemprov Kalteng menyediakan tempat sampah dan kantong plastik ramah lingkungan. Plt. Sekda Ampung mengajak masyarakat untuk aktif menjaga kebersihan dan menggunakan acara ini sebagai alternatif rekreasi lokal “daripada berlibur ke luar kota” .
6. Tantangan dan Rekomendasi Ke Depan
Tantangan:
-
Mengelola keramaian agar tidak menimbulkan sampah berlebih.
-
Menjaga kualitas produk UMKM, agar tetap menarik bagi pengunjung dari berbagai kalangan.
-
Mengembangkan konten budaya agar tetap segar dan edukatif.
Rekomendasi:
-
Buat pelatihan singkat bagi UMKM (branding dan kemasan).
-
Kerja sama dengan pemerintah pusat, Dinas Pariwisata, dan sektor swasta untuk promosi dan akses modal.
-
Tambahkan didactic boards / papan informasi budaya agar pengunjung lebih mengenali nilai-nilai budaya setempat.
Kesimpulan
Huma Betang Night terbukti bukan sekadar acara malam minggu—ia merupakan ritual budaya dan ekonomi bagi Kalimantan Tengah. Dengan pendekatan inklusif, acara ini menjadi platform pelestarian identitas lokal sekaligus ruang tumbuhnya UMKM dan ekonomi kreatif. Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sangat penting agar acara ini terus berkembang dan memberi manfaat luas, mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Sumber : kalteng