Penyaluran kredit kepada UMKM tengah menghadapi tantangan serius di tahun 2025. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM baru mencapai kisaran 2% pada Juni lalu, namun segmen mikro justru mengalami kontraksi sebesar 2,5%. Kondisi ini menandakan bahwa pelaku usaha kecil skala paling bawah masih belum pulih dari dampak pandemi dan gejolak ekonomi global.

1. Tren Penyaluran Kredit UMKM Terkini

Menurut data BI via Kontan, kredit UMKM secara keseluruhan tumbuh sekitar 2% tahun-ke-tahun (YoY) hingga Juni 2025, melemah dibandingkan Januari lalu (2,5%). Rinciannya, segmen mikro mengalami penurunan 2,5% YoY, segmen menengah minus 0,6%, sementara segmen kecil malah bertumbuh solid sekitar 10,5%.

2. Penyebab Kontraksi Segmen Mikro

Beberapa faktor identifikasi menjadi penyebab turunnya kredit mikro:

  • Daya beli konsumen melemah, membuat usaha mikro sulit menjual produknya dan minim minat ajukan kredit

  • Perbankan lebih selektif, terutama segmen mikro dianggap lebih tinggi risiko NPL dibanding segmen lain

  • Kondisi ekonomi global dan geopolitik, termasuk ketidakpastian tarif dan suku bunga internasional, membuat pelaku usaha menahan diri

3. Perbandingan Segmen Kredit UMKM

Segmen UMKM Pertumbuhan YoY (%) Catatan
Mikro -2,5% Paling tertekan
Kecil +10,5% Sektor penggerak kredit
Menengah -0,6% Masih stagnan
Total UMKM +2,0% Masih tipis

Sumber data: Bisnis.com & Kontan

4. Risiko dan Strategi Penanganan

Bank Indonesia dan OJK mengakui peningkatan risiko kredit mikro berpotensi menambah angka NPL. Setidaknya skema mitigasi dapat berupa:

  • Restrukturisasi kredit dan skema KUR didorong khususnya di sektor mikro.

  • Pemantauan NPL secara ketat, khususnya sektor usaha kecil dan mikro

  • Peningkatan kapasitas UMKM, agar lebih siap dan layak kredit melalui edukasi manajemen dan digitalisasi.

 5. Peran KUR dan Stimulus Pemerintah

Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap menjadi pilar penyaluran dana ke UMKM. BI mencatat penyaluran KUR mencapai Rp118,8 triliun hingga Juni 2025, tercapai sekitar 39,3% dari plafon tahunan Rp300 triliun. Namun, tingkat kredit bermasalah (NPL) di KUR mencapai 2,38%, lebih rendah dibanding rata-rata NPL UMKM.

6. Outlook dan Rekomendasi

  • Proyeksi OJK: Kredit UMKM dipandang akan membaik di akhir tahun setelah suku bunga BI turun.

  • Rekomendasi: Kolaborasi diperlukan antara bank, pemerintah daerah, dan fintech untuk:

    • Menyediakan skema kredit mikro ringan dan digitalisasi proses peminjaman.

    • Memberikan pelatihan literasi keuangan dan manajemen usaha kecil.

    • Melakukan kampanye promosi produk lokal agar permintaan tumbuh kembali.

Kesimpulan

Meskipun kredit UMKM tumbuh tipis, segmen mikro justru sedang mengalami tekanan tajam yang membutuhkan perhatian khusus. Penyaluran kredit yang sehat dan inklusif harus dibarengi dengan pendampingan usaha. Solusi seperti digitalisasi proses, pelatihan bisnis, serta penguatan program KUR adalah kunci pemulihan ekonomi sektor mikro. Langkah konkret perlu segera diambil agar komponen penting dalam rantai ekonomi ini tidak tertinggal.

Sumber:  keuangan kontan