Surabaya kini punya peluang untuk punya oleh-oleh khas yang berkelas dan bangga. Dalam upaya memacu sektor ekonomi kreatif, DPD Partai Golkar Surabaya mengajak para pelaku UMKM lokal melalui lomba “Cipta Oleh-Oleh Khas Surabaya”. Melalui ajang ini, UMKM diajak menciptakan inovasi kuliner dan kerajinan yang bisa menjadi ciri khas Kota Pahlawan yang tak hanya diingat, namun juga menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi yang merata.
1. Lomba : Pilar Strategi Pemajuan UMKM Lokal
Lomba yang digelar oleh Partai Golkar sejak 4 Juni hingga 19 Juli 2025 ini melibatkan sekitar 60 peserta UMKM bidang kuliner dan kerajinan , dengan 10 finalis berkompetisi di babak grand final. Ajang ini menjadi stimulan bagi kreativitas pelaku usaha, sekaligus ajang promosi unik bagi Kota Surabaya .
Dr Akmarawita Kadir, Sekretaris DPD Golkar Surabaya, menjelaskan, tujuan lomba ini adalah membentuk ikon yang tak hanya simbolis, tetapi juga menopang pemerataan ekonomi kreatif. Surabaya diharapkan memiliki magnet ekonomi baru yang merata, tidak hanya menerangi satu kawasan wisata.
2. Proses Penjurian: Profesional dan Independen
Tim juri yang terdiri dari para profesional independen memberi bobot lebih bagi lomba ini. Di antaranya:
-
Raja Abdi (pengusaha kuliner nasional)
-
Indah Nugrowibowo (Ketua APJI Jatim)
-
Cicim Rakhmawati (Ketua Asosiasi Handicraft Jatim)
-
Safni Yeti (Ketua ASEPHI BPD Jatim)
-
Puguh Sugeng Sutrisno (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Surabaya)
Kriteria penjurian mencakup keunikan produk, cerita budaya, dan potensi pemasaran skala luas.
3. Pemenang dan Produk Unggulan
Dari dua kategori : kuliner dan kerajinan , muncul para juara yang layak jadi ikon baru:
Kuliner
1.Kue Rawon Surabaya – Lilis Mudjiarti
2.Ketan Gulung Surabaya – Nurusaadah
3.Pia Rawon Ndog Asin – Dina Novita Andriana
Kerajinan (Handy craft)
1.Boneka Adat Cak & Ning – Dwilely Susiani
2.Totebag Batik – Bambang Sujana
3.Boneka Rajut Suro dan Boy o – Nadia Putri Nilam Sari
Juara patut diapresiasi karena berhasil menampilkan produk berkarakter sambil memperkuat identitas lokal.
4. Respons dan Tantangan ke Depan
Juri King Abdi menyambut positif acara ini dan mendorong tindak lanjut percepatan dari Pemerintah Kota Surabaya. Ia menekankan bahwa pemenang produk wajib difasilitasi agar mendapat ruang promosi dan akses pasar yang lebih luas .
Kesuksesan lomba ini perlu disikapi sebagai momentum. Kolaborasi antara legislatif, eksekutif, dan pelaku UMKM harus dirancang agar inklusif dan berkelanjutan, menjadi pijakan ekonomi yang lebih adil dan kreatif.
5. Rekomendasi agar Ikon UMKM Terwujud dan Tahan Lama
Berikut langkah lanjutan agar ikon oleh-oleh menjadi lebih dari sekadar acara sesaat:
-
Fasilitasi Produksi dan Distribusi: Bekerjasama dengan distributor, retail, dan pelaku jasa pengemasan.
-
Pelatihan & Standarisasi: Tingkatkan kualitas mutu dan kemasan agar layak ekspor atau masuk pusat belanja.
-
Promosi Digital & Offline: Gunakan platform ecommerce, media sosial, serta promo di Bandar Udara, stasiun, dan pusat wisata.
-
Monitoring Berkala: Lakukan evaluasi setiap 6 bulan untuk produk populer dan kebutuhan pengembangan.
-
Pendanaan & Insentif Daerah: Libatkan Pemkot Surabaya untuk insentif pajak, pelatihan, dan subsidi pengemasan bergaya profesional.
Kesimpulan
Inisiatif lomba oleh-oleh khas Surabaya yang digagas Golkar tidak hanya membangun kreativitas UMKM, tetapi juga menggagas cetak biru persamaan ekonomi dan penguatan budaya lokal. Dengan kolaborasi yang terstruktur, Surabaya berpeluang punya ikon oleh-oleh baru—yang tidak hanya melekat di benak wisatawan, tetapi juga mampu menjadi sumber pendapatan dan kebanggaan kota. Apakah ini momentum untuk menjadikan Rawon Pastry atau Boneka Cak & Ning sebagai juru bicara rasa dan budaya Surabaya? Waktunya aksi nyata dimulai sekarang.
Sumber : berita jatim